Pempek Pak Raden

“Umi masih pengen maem tekwan?”

“Hah iya mau, mau, mau banget Abi, emang ada di mana, di Dago ya?”

“Bentar toh, tak cari dulu.”

Lalu pria yang biasa kupanggil Abi mulai searching internet melalui ponsel jadul yang menemaninya sejak tahun 2004 lalu. Beberapa pilihan alamat Pempek Pak Raden dikantonginya.

“Ayo Umi mana hapemu, telpon ini yang di Jl. Rama.”

Kemudian dia menyebutkan nomor telepon Pempek Pak Raden tersebut dan aku pun menekan angka-angka di ponselku. Selanjutnya kuserahkan kepadanya, untuk eksekusi.

“Halo, Pempek Pak Raden, iya, kalau saya mau ke sana dengan angkutan umum naik ke arah mana ya? Oh iya ok, terima kasih,” ucapnya singkat.

“Ayo Umi, ga jauh kok dari sini,” sambil tersenyum, tanda bahwa dia telah sukses menyenangkan diriku.

Kurang dari setengah jam, kami sudah berada di jalan yang dimaksud. Namun, karena keasyikan cerita sempat tuh kelewatan, bahkan sewaktu aku hendak masuk ke arah Kedai Pempek, dia sempat menarik tanganku untuk kembali pulang.

“Udahlah ga jadi aja, ra gelem toh, wes kenyang toh?”

Ah Abi, bisa aja becanda mempermainkanku dan membuatku bersemu merah. Segera pegang lengannya dan setengah kuseret, kami pun memasuki Kedai dengan aroma cuka yang sudah menusuk-nusuk hidungku.

Aku pun mulai memesan, pempek kecil yang ternyata harganya Rp.4000 per satuannya.

“Sepuluh ya teh, tapi untuk yang pempek kerupuk jangan digoreng. Trus tekwannya dua, Srikayanya juga tolong dua saja, minumnya teh hangat tawar.”

“Abi, belum maem nasi, takutnya perutmu bermasalah nantinya karena tidak terbiasa, jadi maem Srikaya dulu ya,” saranku kepadanya.

“Ng jeh umi…,” ucapnya.

(Iya dia selalu berusaha menyetujui setiap saran q, karena takut ngga di openi hehehe maksudnya di urusin).

Sesuap demi sesuap dia mulai menikmati Srikaya, makanan khas Palembang berwarna hijau yang dibuat dari telur dan santan.

“Enak dan manis” pujinya.

Selanjutnya dia mulai menyentuh pempek, tekwan dan akhirnya pempek lenggang.

“Mantab, mak nyus…..”

Aku senyum dan mulai tertawa memperhatikan dia kekenyangan. Tak lama dia pun mulai menyalakan dan menghisap rokoknya. Selanjutnya diselingi dengan cerita kami berdua yang sepertinya tiada pernah ada habisnya.

***

 

Tentang orange

Lahir di Palembang, 3 Februari 1983
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s