BUNDA

berbicara dalam diam

muram dalam canda

sedih saat tertawa

menapaki jalan menanjak, terjal dan licin

kurasa aku jauh darimu wahai Bundaku

rasanya aku tertatih dan terpeleset ribuan kali

tanpa dirimu ada disampingku rasanya seluruh tubuhku hancur

tanpa dirimu di sisiku rasanya darahku berhenti mengalir

disini aku sekarang bunda

di rantau

jauh darimu

jauh dari sisimu

jauh dari belaianmu

jauh dari dekapan dan pelukanmu

namun, Bunda, meski aku jauh namun kau tetap melihat dengan mata hatimu

Bundaku, apa kabar dirimu disana

apakah kau baik-baik saja

bagaimana makanmu? sarapanmu? siapa yang menyiapkan pakainmu saat berangkat kerja Bunda?

makan apa Bunda malam ini?

Bunda sudah minum obat? jus apelnya sudah diminum?

Bunda besok mau pakai baju apa? Bunda besok mau sarapan apa? nasi gemuk apa lontong?

apa mau dimasakkan mie tumis.

Pulang sekolah mau kemana Bunda? langsung pulang ke rumah atau mau mampir ke toko? apa Bunda mau makan model dulu, atau mau mampir tempat mama?

Bunda……………………

aku kangen Bunda…………….

 

Tentang orange

Lahir di Palembang, 3 Februari 1983
Galeri | Pos ini dipublikasikan di puisi. Tandai permalink.

2 Balasan ke BUNDA

  1. oriie rianzi berkata:

    Selamat Pagi .
    Maju terus tuk berkarya. .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s