Don’t Call Me Tia

Dita, hari ini kamu dapet tugas main ke Glob. Iya itu tempat kursus bahasa inggris yang ada di Jl. Ki Demang , kamu kesana temuin Mr. Savana. Wawancara dengan dia dan bikin profil tempat kursus itu, karena perusahaan kita ada kerjasama dengan mereka. Ohya, kamu ikutan les kan? ” tanya Mbak Lis padaku.

“Les?” tanyaku.

“Iya, kan nanti kita ada kelas bahasa inggris gratis dari kantor dan teacher-nya dari Glob. Belajarnya di sini, di lantai tiga gedung kita, tapi ya sesuaikan sama jadwal liputanmu yach, selesaikan dulu urusan di lapangan, jgn sampai kebobolan,” pesan terakhir Mbak Lis yang paling utama.

“Ya mbak,” jawabku singkat.

Segera kugerakkan kuda hitam kluarga Honda menuju Glob yang tidak jauh letaknya dari kantorku. Haduh, ternyata baru parkir motor aja, udah disambut dgn bahasa inggris sama security-nya. Terpaksa dengan terbata-bata aku berusaha menjawab. Begitu juga dengan resepsionisnya. Begitu masuk ke ruangan Mr. Savana, aroma English pun begitu terasa. Namun setelah basa-basi sedikit, akhirnya aku minta wawancara pake Indonesia aja, bahkan ada jg yg bahasa Palembang, biar ngga salah dalam pemberitaan.

Sekitar 15 menit tanya jawab, seorang pria yang usianya kalau kutebak tidak jauh berbeda denganku mengetuk ruangan Mr. Savana. Dia berpenampilan rapi, yach layaknya seorang teacher. Kami pun diperkenalkan oleh Mr. Savana.

“Sulistyo, just call me Tio,” kalimat pertamanya denganku.

“Arditha, Ardhita Maharani,” jawabku memberitahu namaku. “And just call me Ita,” imbuhku.

“Tia?” ucapnya.

“No, but Ita,” ulangku.

“Ok, Tia,” ucapnya lagi.

“Hemm up to you lah,” gumamku.

——————–

Itu merupakan pertemuan pertamaku dengannya. Setiap ada kolom untuk berita Glob, maka itu menjadi urusanku dengan Tio. Kami saling bertukar email agar mudah komunikasi dan pengiriman bahan berita, karena menurutku akan sulit untuk ketemu dengannya mengingat jadwal liputanku yang lumayan padat dan tidak tentu waktu.

Ternyata, bukan seperti yang aku duga. Meski kami sudah bertukar email dan saling mengirimkan email, ternyata Tio lebih sering ke kantorku. Jika biasanya dia datang untuk urusan bahan berita, tetapi akhir-akhir ini dia datang bukan untuk itu. Menurutnya, aku enak untuk diajak ngobrol dan terkadang dia datang cuma untuk menyapaku. Hanya 10-15 menit dan dia singgah ke kantorku saat dia pulang kerja. Belakang ini tanpa kusadari kami semakin akrab. Entah kenapa aku merasa nyaman saja dengan dia. Kami pun bertukar nomor Flexi beberapa hari kemarin. Sehingga lebih murah jika berkomunikasi lewat telepon.

Masih seperti pertama kali bertemu, dia selalu memanggilku Tia. Padahal aku sudah bilang berkali-kali kalau itu bukan namaku. Namun, masih saja dia memanggilku begitu. Menurutnya, sudah terbiasa dan sulit untuk diubah. Selain itu, dia juga berpendapat bahwa tidak ada orang lain yang memanggilku dengan “Tia” dan hanya dia yang memanggilku demikian.

“Ok,”jawabku malas berdebat.

Dengan begitu resmi sudah dia memanggilku Tia. Tidak ada yang begitu istimewa diantara kami seperti pasangan muda-mudi lainnya. Setiap perjumpaan, yang kami lakukan adalah makan dan ngobrol. Langganan makan pun tidak jauh-jauh dari kantorku. Dan biasanya kalau dia sudah curhat tentang mantan pacarnya, aku merasa seperti seorang psikolog ternama yang akan memberikan segudang jalan keluar dari masalah-masalahnya.

(hehhehe lucu juga yach, tp spertinya ada nich bakat jadi psikolog)

Yach pertemanan kami bisa dianggap sebuah perdagangan. Perdagangan klasik atau kuno. Aku barter dengan Tio. Aku mau jalan bareng ma dia (Ups bukan jalan layaknya orang kencan, maksudku disini adalah skedar dinner makan malam, hahhaha atawa ini lebih dari kencan yach, oh tidak bisa…ini cuma skedar makan malam biasa di depan kantorku dan ini merupakan sebuah rutinitas setiap malam yang bedanya hanyalah sekarang kalau makan ada temannya yaitu Tio, itu saja). Barternya, dia kan teacher tuch, jadi aku dapet privat english gratisan dari dia. Lumayan, dapet gratisan. Tiap telepon harus pake Inglish, sms juga dan klo ketemuan juga pake English. Secara ngga langsung meski awalnya terpaksa akhirnya lumayan bisa memperlancar Bahasa Inggrisku dan mempraktekannya.

—————–

Tidak biasanya, Tio ngajak ketemuan siang hari dan mendadak.

“Sory I can’t, I am still reporting for investigation news and it’s very important, my big bos can angry to me if I don’t get it,” jawabku dengan bahasa inggris yang masih kacau.

Telepon pun kau putus. Malamnya kembali kau menghubungiku, untuk bertemu.

“Haduh ngga bisa, beritaku banyak banget, ada untuk crime, kota, ekonomi, apalagi yang untuk halaman satu haduh bener-bener ngga bisa nich, besok aja yach, nanti aku telpon” jawab seraya minta maaf.

Esok harinya, aku pun disibukkan dengan berbagai liputan. “Ada penangkapan bandar sabu kelas kakap, belum lagi ada penemuan mayat Mr X yang diduga keras sebagai pembunuhan dengan otak salah satu oknum anggota, dan kelanjutan dari lipt investigasi. Sehingga aku pun lupa untuk menelponnya.

Saat aku berjibaku dengan keyboard komputerku agar secepatnya merangkai berita, sms masuk ke ponselku.

“Taksi…sexy…,” skilas sperti itulah nada suara sms masuk ke ponselku.

“Bisa ketemu ngga? sebentar aja, penting” tulismu dalam sms itu.

Kubiarkan sms itu, tidak kubalas dan juga tidak ku telepon karena aku benar-benar sedang kacau. (Ini biasa terjadi padaku kalau berita sedang banyak-banyaknya dan sudah dikejar deadline, bisa mentok otak ngga bisa diajak kompromi untuk mikir cepat). Sehingga jalan satu-satunya kuabaikan segala yang ada di sekitarku, agar bisa berkonsentrasi menyelesaikan satu per satu dari beritaku.

kembali sms masuk. Kali ini dengan sangat memohon kau ingin bertemu.

“Aku ada di bawah, turun ya, aku cuma minta waktumu 5 menit saja, sudahnya terserah kamu, mau nemuin aku lagi atau ngga, udah dua jam aku nunggu kamu di bawah. aku di dekat pos satpam,” isi sms mu.

Aku segera membuka jendela dan kulongok ke bawah. Ternyata benar, dia ada di bawah. Segera aku berlari menyusuri tangga. Tak kuhiraukan lagi panggilan redakturku.

“Maaf,” hanya itu yang dapat kuucapkan saat berjumpa dengannya dan dengan wajah cemas karena mengingat berita-berita yang belum selesai kuketik.

“Naiklah lagi ke atas, beritamu belum selesaikan, aku akan menunggu,” ucapmu.

“Loh, katanya ada yang mau diomongin?” tanyaku.

“Percuma ngomonginnya kalau pikiranmu saat ini bercabang, nanti aja sepulang kantor, aku tunggu kamu di sini,” ucapmu lagi.

“Haduh, aku ngga bisa pastiin jam brapa pulang, ini berita masih banyak, gimana yach?” ucapku lagi.

“No problem,” ucapmu singkat.

“Sekali-kali aku nunggu kamu sampai kamu selesai,” lanjutmu.

Aku masih menampakkan wajah tidak setuju.

“Oke, kira-kira jam brapa pulang? nanti aku ke sini lagi, gimana? aku pulang dulu,stuju?” Tio memberi solusi.

“Yup, setuju,” ucapku.

Malam itu tidak seperti malam-malam biasanya, kami makan malam lumayan jauh dari kawasan kantorku. Makan malam di Kawasan Gedung Olahraga atau biasa disebut GOR. Memesan cumi goreng tepung dan nasi goreng serta es teh manis. Itu menu favoritku. Sambil menikmati nasi goreng bikinan mang Zen, aku pun mendengarkan ceritamu.

“Gimana menurutmu, apakah aku kawin lari saja yach dengan Santi, dia mau menikah bulan depan?” tanyamu kepadaku.

“What kawin lari? wah aku kurang setuju,” ucapku.

“Knapa? apa kamu rela temanmu ini mati bunuh diri gara-gara cinta?” keluhmu.

“Aduh man, gini hari masih mau bunuh diri gara-gara cinta, ngga jaman lagi,” ucapku bercanda.

Aku pun mulai menjelaskan alasanku kepadanya. Aku hidup punya prinsip dan salah satu prinsip dalam hidupku adalah ngga ada tuch yang namanya kawin lari. Menikah bukan cuma kita dengan pasangan kita saja, tetapi keluarga besar kita dan keluarga besar pasangan kita. Tidak hanya menikah, apapun hal yang diawali dengan hal yang tidak baik, maka pada akhirnya akan tidak baik pula. Kawin lari atau menikah tanpa restu dari orangtua menurutku adalah sesuatu hal yang tidak baik. Selain itu apakah kamu pernah membayangkan bagaimana kecewanya orangtua akan perlakuan kita. Sungguh betapa teganya kita membuat orang yang begitu berharga dan begitu banyak jasanya kecewa dan sedih. Sanggupkan kita menyakiti hati mereka. Bayangkan saat kita masih kecil, apapun akan mereka lakukan dan mereka pertahankan demi kita. Alangkah tidak baiknya jika kita membalaskan dengan pengkhianatan seperti itu. Begitupun dengan pasangan kita, jika pasangan kita itu sanggup mengkhianati orang yang begitu penting dalam hidupnya sejak membuka apa, lalu dengan kita. Sungguh aku merasa dia lebih sanggup lagi mengkhianati kita kelak karena kita belum begitu lama dikenalnya.

Tio terdiam. Tak berapa lama, sms masuk ke ponselnya. “Ini dari Santi, dia nanya gimana selanjutnya?” ucapnya.

“Selanjutnya apa? ttg kawin lari,” tanyaku.

Tio pun menganggug lemah.

“Aku hanya bisa kasih saran sebagai seorang teman dan aku rasa saat ini kita sudah bersahabat, maka bisa kusebut ini adalah saran dari seorang sahabatmu, tetapi ini bukan nasehat, ingat ini bukan nasehat, hanya saran saja, dan semua keputusan ada ditanganmu,” ucapku.

——————————–

Setelah malam itu hampir dua minggu aku dan Tio tidak pernah bertemu. Berkomunikasi pun tak pernah. Maklum dengan pekerjaanku yang menuntut lebih banyak waktuku. Untuk lebih loyal lagi kepada perusahaan. Sehingga tidak banyak waktu untuk memikirkan selain pekerjaan.

Tiba-tiba Tio datang menjemputku dan mengajakku keluar kantor. Seperti biasa tujuan kami adalah tempat makan.

“Aku ngga jadi kawin lari,” ucapmu sambil tersenyum.

Kulihat seperti tidak ada beban lagi di wajahmu. Senyummu pun lebih sering terkembang. Tak ada gurat penyesalan di wajahmu.

“So?” tanyaku.

“Awalnya dia marah dan menuduhkan tidak cinta lagi dengan dia, tetapi setelah aku jelaskan seperti yang seorang sahabat menyarankan kepadaku, maka dia pun mengerti,” ucapmu dengan penuh semangat.

“Yakinlah jodoh sudah diatur sama Allah dan percayalah kalau jodoh ngga bakal kemana,” imbuhmu sambil tersenyum.

————————

Dua hari kemudian saat sore itu aku baru tiba di kantor kulihat seorang wanita muda tampak melamun di sudut lobby kantorku. Seperti biasa, kalau ada tamu yang rada aneh maka aku akan langsung nanya sama teman2 di dapur (OB).

“Oh itu, dia cari wartawan yang namanya Tia. Kami bilang aja, kalau mbak Tia sudah lama pindah ke Bandung dan ngga di sini lagi. Tapi dia ngotot katanya Mbak Tia masih aktif kerja di sini,” Ardi menjelaskan kepadaku.

“Emang kenapa,” tanyaku lagi sambil memasak Mie. “Mau nuntut gara-gara berita?” sambungku bertanya sambil menyiapkan cabai rawit untuk teman makan mie goreng kesukaanku.

“Kayaknya ngga dech, masalah pribadi katanya,” imbuh Ardi.

Dalam hati aku menebak jangan-jangan dia pengen ketemu aku. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menyapanya. Terserah apapun yang bakal terjadi, toh ini di kantorku dan ada teman-temanku. (cie berada di sarang sendiri dan banyak teman jadi lebih berani, coba klo ditempat musuh pasti ngacir….).

“Maaf mbak cari Tia?” tanyaku.

“Iya,” tanyanya seperti kebingungan.

“Santi?” tebakku.

“Iya, kamu Tia? Tianya Tio?” tanyamu mempertegas.

“Hah, maksudnya Tia yang kenal sama Tio, Sulistyo guru bahasa inggris di Glob.

“Saya bisa bicara sebentar?” tanyanya.

Kemudian kami pun berbincang di ruang tamu. Lumayan ruang tamu kantorku berdinding kaca sehingga orang lain bisa melihat kami berbincang tetapi tidak bisa mendengar apa yang kami perbincangkan kalau pintunya ditutup.

Dia kemudian memulai ceritanya, tetang perubahan sikap Tio yang drastis. Tio yang pada awalnya mengajaknya kawin lari tiba-tiba berubah dan menolak. Bahkan Tio berubah menjadi sosok yang begitu perduli dengan orangtuanya dan orangtua Santi. Menurut Santi itu aneh dan perubahannya begitu cepat. Santi tidak bisa begitu saja menerima keputusan Tio, agar Santi menuruti kemauan orangtuanya “dijodohkan”. Bahkan Tio bilang ke Santi bahwa dia sudah bisa sedikit melupakan Santi. Saat ini Tio berusaha untuk bisa menerima keputusan orangtua Santi.

“Tio sering cerita kalau dia dekat dengan wanita, Tia namanya, dan akhirnya aku bisa ketemu kamu. Dia tidak bilang sama aku kalau dia mulai simpati sama kamu, tetapi aku tahu, dan aku mengenal Tio, aku mohon, aku tidak bisa hidup tanpanya, dan aku heran hanya dalam waktu dua hari dia bisa berubah, secepat itu,” ucapnya sambil menangis.

“Begini, aku bisa jelaskan bahwa aku dan Tio tidak ada hubungan khusus selain persahabatan dan perlu kamu ketahui aku sudah memiliki teman dekat, aku rasa Tio pun tahu hal itu, dan mengenai gagalnya rencana kawin lari kalian, maaf aku rasa aku tidak berhak ikut campur masalah itu,” ucapku.

“Tapi, itu karena kamu kan, itu karena saran kamu sama dia,” nada bicaramu meninggi.

“Yach, aku cuma kasih saran karena dia minta, tetapi bukan bermaksud menggagalkan rencana kalian,” ucapku tegas.

“Aku minta Tia, jauhin Tio, aku mohon, untuk sementara waktu ini saja dan biarkan dia memutuskan sendiri pilihannya, jangan kamu pengaruhi,” pintamu kepadaku.

“Oke dan perlu kamu tahu satu hal, namaku bukan Tia tetapi Ita, Ardhita Maharani,” ucapku sambil tersenyum.

“Tetapi kenapa Tio memanggilmu Tia?” tanya Santi.

“Coba kau tanya sendiri sama dia, maaf aku masih banyak pekerjaan, kalau ada waktu nanti kita bisa ngobrol lagi,” aku undur diri.

—————————————

Sejak pertemuanku dengan Santi, aku mulai membatasi diri dengan Tio. Bahkan bisa dibilang aku benar-benar menghindarinya. Aku tidak mau disebut sebagai pemutus dia dan Santi (pihak ketiga gitulah…). Sms, telepon, emailnya tidak pernah aku perdulikan. Jika dia datang ke kantor pun aku meminta satpam untuk mengatakan bahwa aku ke luar kota. (secara motorku kan terparkir di tempat parkir depan kantor, kalau dikatakan aku pulang kok motornya ditinggal yang tepat alasannya yach liputan luar kota n motor dititip di kantor…).

Hampir satu minggu. Dan akhirnya aku benar-benar kepergok. Dia benar-benar menungguku di seberang jalan depan kantorku. Hal itu kuketahui dari sms nya yang mengatakan bahwa dia tidak terima diperlakukanku seperti itu.

“Keluarga Santi telah membuangku, apakah kamu, sahabatku akan membuangku juga” isi sms mu.

“Apakah benar kau menganggapku sahabat?” tanyaku membalas sms mu.

“Iya,……” balasmu.

“Oke, kalau begitu don’t call me Tia, cause I am Ita,” pintaku.

—————————————————————————

Setelah hari itu hampir tiga bulan aku tidak pernah menerima sms darimu. Kamu juga tidak pernah menelponku, terlebih singgah ke kantorku. Saat kelas Inggris di kantorku, aku sempat menanyakan kabar tentangmu dengan salah satu teacher Glob. Dia mengatakan kalau kamutelah resign dari Glob dan pindah ke salah satu perusahaan seluler.

Dan hari ini kita bertemu. Tidak sengaja kau hadir di pernikahan temanku. Sendiri, kau datang sendirian tanpa seorang teman, pria ataupun wanita. Aku menyapamu lebih dulu.

“Tio, apa kabar? Lama kita ngga ketemu,” tanyaku.

“Baik, kamu?” tanyamu tanpa menyebut namaku.

“Alhamdulillah baik, sekarang ngga di Glob lagi ya?” tanyaku lagi.

“Ngga aku udah pindah, kamu?” tanyamu.

“Aku juga udah resign,” jawabku.

Obrolan pun mengalir seadanya meskipun masih terkesan kaku. Usai acara kami pun berpisah. Dan saat itu dia sempat memanggilku Tia dan bertanya.

“Tia, kapan kamu putus dengan pacarmu?” tanyanya.

“Aku bukan Tia, aku Ita dan aku berharap tidak akan pernah putus dengan pacarku,” ucapku sambil tersenyum.

Kemudian engkau pun berlalu. Satu jam kemudian kuterima sms darimu.

“Hanya aku yang memanggilmu Tia, dan hanya ada satu Tia di hatiku, TT,”.

——————————

*** Untuk seorang sahabat, yakinlah kalau jodoh ngga bakal kemana dan semua udah ada yang Ngatur.

Tentang orange

Lahir di Palembang, 3 Februari 1983
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s