Nyak……….

Nyak………..Minyak……………Minyak Lampu………………Lampu……………..

Lelaki tua yang tampak lebih dari 50 tahun menyusuri jalan-jalan di Kabupaten Banyuasin Kecamatan Talang Kelapa. Pakaiannya yang lusuh dengan stelan kemeja usang lengan pendek dan celana pendek sebatas lutut berfarfum minyak lampu. Alas kakinya adalah aspal, kerikil, batu cadas, bahkan lumpur di kala hujan. Dengan terus menarik gerobak berisi delapan jerigen minyak tanah, pria ini masih terus meneriakkan minyak lampu. Seakan dia berdemo menyuarakan minyak lampu takkala gas sudah mengganti posisinya. Dikala para agen-agen minyak  tanah (lampu) berbondong-bondong berganti menjadi agen gas elpiji, dia masih setia dengan minyak lampunya.

 

Suaranya masih nyaring, senyaring suara orangtua yang sudah berusia 45 tahunan. Namun, wajah Pak Sudiran tampak lebih tua dari umur sebenarnya. Maklum saja setiap hari dia harus berjalan lebih dari 50 km sambil menarik gerobak minyaknya. Kakinya sudah sangat bersahabat dengan aspal. Dia tidak pernah memakai alas kaki, kecuali kalau kondangan katanya. Panas terik, hujan rintik maupun lebat tidak pernah memundurkan niatnya untuk menjajakan minyak lampu jualannya. Sejak harga minyak lampu masih ratusan rupiah hingga kini sudah mencapai Rp 10.000, dia masih setia dengan jenis dagangannya tersebut. Sejak dulu pun tidak pernah berganti, sejak jualan minyak sampai sekarang sampai mati saya tetap akan jualan minyak. Katanya kepada saya.

 

“Minyak lampu iku wes urepku, wes nang ati, kasian kan wong cilik seng tinggale adhoh nang njero-njero kono kae, dek anen podo ra iso nganggo gas, lah wong gas iku thek’e wong sugeh, yo podo wedhi nak mledak engko kompor’e opo tabung’e, wes iku nak ndedek geni yo nganggo kui minyak lampu lah wong masak’e jugo nganggo kayu,” ceritanya kepadaku.

 

Artinya kira-kira seperti ini : minyak lampu itu sudah menjadi bagian hidupku, sudah di dalam hati, kasihan kan orag-orang kecil yang tinggal jauh di derah pedalaman itu, kalau mau pakai gas tidak bisa, gas kan untuk orang kaya, mereka takut kompor atau tabung gasnya meledak, kemudian mereka juga masak pakai kayu dan minyak lampu digunakan untuk menyulutnya.

 

———————————–

 

Pak Diran, begitu panggilan akrabnya. Pria ini sudah lebih dari 30 tahun bekerja sebagai pedagang minyak lampu keliling. Meski minyak lampu sekarang sulit untuk didapat dan harganya yang mahal, tetapi bapak dua anak ini masih saja setia menekuni pekerjaannya. Dia tidak mau pindah ke profesi lain, alasannya berjualan minyak lampu bukan sekedar mencari uang tetapi juga membantu orang-orang yang membutuhkannya.

 

Menurutnya, kalau dulu dia tiap hari berkeliling menjajakan minyak, tetapi sekarang kondisinya tidak sesehat dulu. Sehingga dalam seminggu terkadang dua hari dia libur. Selain karena sudah sering sakit-sakitan, kedua anaknya pun sudah bisa membantu membiayai kebutuhan keluarganya. Kedua anaknya telah menikah dan dia sudah mencapat tiga orang cucu. Sehingga biaya hidupnya lebih ringan dari sebelumnya. Istrinya diam di rumah, mengurus seorang cucunya karena anak bungsunya meskipun sudah menikah tidak diperbolehkan pisah rumah. Nah dari cucunya itulah dia mendapatkan banyak hiburan. Jika pulang kecapean dari berkeliling, maka cucu lelakinya yang kini sudah berusia empat tahun bisa menghiburnya. Menghilangkan pegal-pegal dibadannya hanya dengan senyuman si kecil.

 

Pernah dia ditanya oleh anak-anaknya, mau sampai kapan berjualan minyak lampu keliling seperti itu. Namun dia hanya tersenyum dan mencoba menjelaskan dengan anak-anaknya. “Inilah yang bisa mengantarkan kalian sampai lulus sma. Jadi jangan pernah mengecilkan pekerjaan bapakmu ini, aku berharap kalian mengerti dan minyak lampu adalah hidupku. Aku akan bersama minyak lampu sampai kelak aku sudah tidak bisa berjualan lagi, jadi kalau kalian tanya kapan aku akan berhenti berjualan minyak lampu, maka kujawab aku akan berhenti jika aku nanti sudah tidak bisa menghirup udara lagi.”

 

***

Untuk Seorang bapak yang begitu setia dengan minyak lampu. Bukan karena minyak lampunya, tetapi kesetiaannya akan sesuatu hal sangat diutamakannya.

 

Tentang orange

Lahir di Palembang, 3 Februari 1983
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s