Maaf Pak Anda Dilarang Masuk

Yakub (60) hari ini ingin jalan-jalan sendiri, bepergian dan bernostalgia sesuka hati. Dia tak ingin ada siapapun disampingnya, tanpa sopir pribadi, tanpa mobil pribadi, tanpa pengawal pribadi, tanpa sekretaris, tanpa semua orang yang biasanya setiap saat berada di sampingnya. Yakub benar-benar ingin sendiri. Keluar dari rumah, dandanannya pun tidak seperti biasanya. Jika sehari-hari berpakaian rapi mengenakan jas dan sepatu mengkilat dan juga jam merek terkenal yang menjadi koleksinya, kali ini sungguh berbeda. Yakub mengenakan kemeja lengan pendek yang tak jelas lagi warnanya cokelat atau abu-abu. Dipadukan dengan celana pendek selutut dan sepatu kets butut warna putih beras karena sudah sangat lama tersimpan dalam sebuah kotak di dalam safety box miliknya. Jam tangan kulit dikenakan di lengan kanannya dan gelang tali merah dengan koin bertuliskan huruf-huruf Mandarin yang dia sendiri tidak tahu apa artinya. Tidak lupa kalung dengan bentuk yang sama.

Yakub, keluar dari rumah berjalan dan membawa uang Rp 50.000 di dalam kantongnya, tanpa dompet dan tanpa tanda pengenal sama sekali. Hanya ada satu kartu nama bertuliskan Cokro Aminoto, Staf SDM PT Karya Sehati, menerima pesanan kartu nama, cetak brosur, pamflet, banner, undangan, dll. Setelah berjalan sekitar 500 meter dari rumahnya yang nota bene terletak di salah satu perumahan mewah di Palembang dengan one gate system membuatnya harus ke jalan raya untuk mendapatkan angkot, karena tidak sembarangan mobil angkutan umum yang bisa masuk ke dalam komplek, kecuali taksi yang mengantarkan penumpang. Beberapa orang satpam yang berjaga di pintu masuk sempat tidak mengenali Yakub. Namun, setelah salah satu dari mereka memerhatikannya dengan seksama akhirnya ketahuan juga bahwa pria tengah baya itu Yakub, seorang konglomerat dengan berbagai perusahaan di mana-mana. Namun, Yakub lebih suka tinggal di Palembang, membuat kantor pusat perusahaannya di Palembang, meskipun kantor cabang utamanya tetap berada di Jakarta.

Perjalanan masih berlanjut, menuju komplek ruko belakang Internasional Plaza (IP). Tidak lama dengan menumpang angkot warna kuning jurusan Sekip, Yakub pun sampai. Setelah menyerahkan uang ongkos angkot, dia pun berjalan memasuki sebuah lorong sempit. Di salah satu lorong tersebutlah Yakub pertama kali berjuang menjadi karyawan percetakan. Sebagai pria dari dusun (kampung) tanpa sanak saudara dan hanya berbekal ijazah SMP Yakub hijrah ke Kota Palembang. Dia bertemu Cokro di Masjid Agung. Saati itu Yakub benar-benar sedang kelaparan dan tidak ada uang lagi sepeser pun. Untuk itulah dia berusaha menahan laparnya dengan menawarkan jasa membersihkan sepatu setiap jemaah yang hendak menunaikan shalat di Masjid Agung. Cokro merasa hatinya klik dengan Yakub. Lalu sambil menunggu Yakub membersihkan sepatunya, Cokro mencoba untuk mengetahui tentang Yakub. Setelah itu terjadilah penawaran antara Cokro dan Yakub. Cokro akan memberikan pekerjaan kepada Yakub dengan syarat Yakub harus mau bersekolah, melanjutkan ke SMA.

Betapa bahagianya Yakub, doa-doanya, munajatnya kepada Allah pun terjawab. Betapa tidak, bukan hanya mendapat pekerjaan tetapi juga beasiswa untuk sekolah. Yakub pun menerima penawaran itu dengan sangat setuju. Ternyata tidak hanya Yakub yang ada di Percetakan Cokro, tetapi ada tiga orang anak sbelumnya. Bahkan di antara mereka ada yang masih duduk di sekolah dasar. Pekerjaan utama Yakub dan ketiga temannya adalah belajar. Setiap hari mereka membantu di percetakkan jika pulang sekolah. Sbelum tidur, adalah saat-saat paling menegangkan. Pak Cokro akan mengecek buku-buku pelajaran, nilai ulangan harian, PR, nilai tugas di sekolah dan lainnya. Jika ada yang mendapat nilai di bawah 70 maka harus rela berdiri satu jam sbelum tidur sambil memgang buku pelajaran dan membacanya dengan lantang.

Keras, Pak Cokro sangat keras. Hal ini ternyata mempunyai latar belakang. Dia telah kehilangan seorang anak, anak tunggal, putra kesayangannya karena kesalahannya dalam mendidik. Istrinya sampai sakit-sakitan karena tidak sanggup kehilangan anak tercinta mereka. Hendra, meninggal dalam kecelakaan motor saat usianya baru menginjak 15 tahun. Bukan karena tabrakan di Jalan raya tetapi karena terjatuh saat adu balap bersama teman-temannya. Akhirnya Pak Cokro pun mengangkat anak-anak yang nasibnya seperti Yakub, namun dengan syarat kedisiplinan yang diterapkannya.

“Jika tidak sanggup dengan aturan yang ada di rumah ini, maka sekarang juga kalian kuijinkan melangkah keluar rumah tanpa menoleh sekalipun,” itulah yang dikatakannya saat dia marah dan kecewa dengan nilai-nilai rendah yang kami dapatkan.

“Aku tidak pernah menyuruh kalian bekerja, karena aku sudah memiliki karyawan, aku hanya ingin kalian belajar dan disiplin, sehingga bisa membanggakan orangtua kalian dan tidak dicemooh orang,” tegasnya lagi.

Yakub masuk ke dalam percetakan. Beberapa wajah terlihat baru, tidak mengenal Yakub. Beberapa ada yang berceloteh, mirip dengan poster besar yang tertempel di salah satu dinding percetakan.

*** bersambung

 

Tentang orange

Lahir di Palembang, 3 Februari 1983
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s