Kasih Tak Sampai

Kasih Tak Sampai – Padi

indah terasa indah

bila kita terbuai dalam alunan cinta

sedapat mungkin terciptakan rasa

keinginan saling memiliki

dan bila itu semua

dapat terwujud dalam satu ikatan cinta

tak semudah seperti yang pernah terbayang

menyatukan perasaan kita

reff:

tetaplah menjadi bintang di langit

agar cinta kita akan abadi

biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini

agar menjadi saksi cinta kita berdua, berdua

sudah, terlambat sudah

ini semua harus berakhir

mungkin inilah jalan yang terbaik

dan kita mesti relakan kenyataan ini

___

Tiba-tiba saja lagu itu mengingatkan Putri pada Ale. Ya, itu lagu kenangan mereka saat masih kuliah dulu. Masa-masa indah saat kuliah pun kembali terbayang. Vespa tua warna biru, BG 1951 NM  selalu mengantarku berkeliling kota Palembang. Tak lupa helm batok warna hitam untukmu dan cokelat untukku. Es krim dan wafer double cokelat Timtam, teman kita nonton film-filmnya Jet Li di Internasional Plaza 21 dan boom-boom car tempat kita mengenang masa kecil. Dengerin lagu di music box, yang PSG nya sampe hafal kalau kita bakal dengerin lagunya Padi. Pernah sesekali kita naik bus kota Bukit, dari depan kampus balik ke Pasar trus ikutan lagi ke Bukit cuma mau dengerin lagunya Padi, ya karena sopir bus itu juga penggemar berat Padi. Oalah..padahal biasanya nich, sopir bus biasanya suka lagu-lagu dangdutan. Sampai akhirnya, kau pun diwisuda. Aku tak datang, aku tidak siap dan aku tidak berani untuk bertemu dengan ibumu, ayahmu, kakak perempuanmu dan juga keponakan cantikmu.

“Sita nanyain kamu terus, kamu di mana sekarang? aku jemput ya?” Ucapmu melalui ponsel.

“Maaf, aku ngga bisa Le, kebeneran hari ini kan aku libur, jadi aku harus bantu bapak di Pabrik, skali lagi maaf,” ujarku lemah.

“Tapi,…….ini hari penting bagiku, aku wisuda, apa kamu tidak mau jadi pendampingku?”

“Maaf” hanya kata itu yang dapat kuucapkan kepadanya.

Namun, masih dengan rasa ketakutan dan cemas yang amat sangat akhirnya kutancap gas motorku dan melaju ke Kampus. Kucari dirimu di antara mereka. Namun, dirimu tak ada. Kulari ke tempat parkir motor, vespa biru itu pun tak ada lagi.

“Halo, kamu dimana? aku di Kampus nich,” kataku.

“Buat apa, terlambat,” ucamu ketus dan kau pun menutup telepon.

“Put, ini ada titipan dari Ale,” Rosa salah satu sahabatku memberikan amplop cokelat.

Isinya foto-foto dirimu saat wisuda. Ada yang bersama teman-temanmu, ada juga yang bersama keluargamu dan ada juga bersama vespamu.

Sepertinya berakhir begitu saja, tak pernah lagi terdengar kabar darimu. Akupun begitu. Hingga suatu hari kau datang ke kampus, memberikan kabar bahwa kau telah bekerja di salah satu perusahaan daerah. Kau mengajakku mengenang kembali saat-saat indah masa kuliah. Berkeliling kota Palembang, makan es krim, nonton, mendengarkan lagu-lagu Padi di music box dan tentunya ditemani dengan vespa. Hingga akhirnya, kau melamarku.

“Aku tidak minta jawabanmu sekarang, kapanpun kau boleh menjawabnya, tetapi jangan terlalu lama ya, nanti aku diambil orang loh,” ucapmu saat itu.

“Begini, aku paling suka jika kau mengusap kepalaku dan menatap mataku, rasanya nyaman sekali, dan senyummu yang manis, manis. Namun, kau tidak pernah sekalipun mengungkapkan rasa yang kau miliki kepadaku, apakah itu rasa cinta, sayang atau apalah rasa itu, sehingga selama ini aku merasa kau adalah kakakku, aku merasa kau bagai kakak kandungku, kau tahu sendiri aku tidak mempunyai kakak dan begitu kau hadir aku merasa aman dan nyaman bersamamu,” ungkapku.

“Dasar bodoh,” ucapmu agak sedikit marah.

“What?” tanyaku.

“Ya kamu bodoh, mana ada pria yang mau melakukan semua yang kita lakukan kalau dia tidak cinta, tidak sayang, tidak ada perhatian dan tidak ingin ada suatu hubungan spesial,hah?” ungkapmu.

“Hah? aku tahu kamu sayang aku,tapi yang aku tahu sayang itu adalah sayang kakak terhadap adiknya,” aku berusaha jujur.

“Sekarang begini saja, maukah kau menjadi kekasihku dan setahun kemudian kita akan menikah, bagaimana?” pintamu saat itu.

“Kalau kakak-adik bagaimana?” tanyaku.

“Kenapa? kenapa bukan pacar?” tanyanya.

“Aku belum mau dan jika lulus nanti aku rasa aku juga belum mau menikah, aku masih pengen kuliah dan aku masih mau cari kerja dulu,” aku berpendapat.

“Oke, kesimpulannya aku ditolak nich, jangan nyesel ya,” ucapmu.

“Maaf,” ucapku.

Setelah itu, Ale mengantarku pulang ke rumah dan bertemu dengan kedua orangtuaku. Hari ini merupakan pertama kali dan sekaligus terakhir Ale ke rumahku. Setahun kemudian, aku mendapat undangan. Dia menikah dengan seorang gadis yang merupakan tetangganya. Wanita itu teman mainnya saat kecil dulu.

“Selamat ya, selamat menempuh hidup baru,” ucapku saat menyalamimu saat kau bersanding.***

Tentang orange

Lahir di Palembang, 3 Februari 1983
Galeri | Pos ini dipublikasikan di cerita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s